UNIVERSITAS
INDONESIA
Public
Management Information Systems: Theory and Prescription
Oleh:
Lia Septiana (0806347132)
Riani Dwi Astuti (0806347170)
Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia
November, 2010
Public Management
Information Systems: Theory and Prescription
Salah satu
refleksi dari peningkatan minat yang luar biasa terhadap Sistem Informasi Manajemen/ Management
Information System (MIS) adalah pertumbuhan penelitian dan teori yang cepat atas bidang kajian ini.
Namun, tersedianya pengetahuan MIS ini tidak serta-merta memberikan manfaat
yang sama kepada setiap manajer yang ada. Para manajer yang berada di sektor
publik harus lebih berhati-hati dalam menarik pelajaran yang tertuang dalam literatur MIS. Hal ini dikarenakan sebagian besar
pengetahuan yang
terkandung dalam MIS,
dikembangkan dari situs data sektor swasta dan diperuntukkan bagi aplikasi di sektor swasta.
Resep-resep pengelolaan yang dikembangkan
untuk sektor swasta mungkin berlaku untuk konteks sektor publik. Masalahnya ialah bagaimana
menentukan resep-resep atau petunjuk mana yang sesuai dengan sektor publik, dan
mana yang tidak. Jika kita melihat secara mendasar,
SIM Publik/PMIS
memiliki perbedaan terhadap SIM konvensional (SIM pada perusahaan privat),
yaitu SIM Publik/PMIS lebih menekankan
kepada faktor eksternal atau lingkungan dibandingkan dengan hal yang bersifat
internal keorganisasian. Tujuan dari SIM Publik/PMIS mungkin ingin mengamati bagaimana
lingkungan terdekat dan jauh organisasi memengaruhi perbedaan tingkah laku para
manajer dalam mengambil keputusan.
Sementara itu, berbeda halnya dengan teori dan
penelitian MIS yang
berkembang
dengan pesatnya, pada Sistem Informasi Manajemen Publik/ Public Management Information System (PMIS) sangat jarang dilakukan penelitian,
bahkan hampir tidak ada teori yang dipublikasikan untuk memahami manajemen di
sektor publik tersebut.
Kerangka Teori MIS
Selama dekade
terakhir, beberapa
penelitian telah meninjau literature MIS. Model yang dikembangkan oleh Ives, Hamilton, dan Davis menyediakan pendekatan terintergrasi untuk
mengkonsepkan
dan
mengkategorikan MIS,
seperti terlihat di bawah ini :
Gambar 1.
Konseptualisasi dan Kategorisasi Penelitian SIM
Environmental Characteristics Rocess Variables
(Constraints and
Resources) (Performance Measure)
![]() |
![]() |
Information
System Characteristics
Gambar di atas mengidentifikasi tiga kelas variabel, yaitu variabel lingkungan yang menentukan sumber daya dan kendala di
MIS, variabel sistem informasi
yang menjadi
ciri MIS, serta
variabel proses yang mengukur kinerja MIS dalam organisasi. Model tersebut tidak
merepresentasikan literature MIS dalam satu pengertian, melainkan turut
memperhatikan faktor lingkungan. Tidak seperti MIS yang cenderung terfokus pada
faktor intra-organisasi dan perilaku individu. Salah satu fokus utama dalam penelitian MIS
ialah menghubungkan pengaruh
karakteristik
organisasi terhadap kinerja MIS.
Untuk
menunjukkan adanya penekanan intraorganizational, Ives,
Hamilton, dan
Davies memeriksa 331 disertasi MIS
dan menemukan
bahwa hanya 13
disertasi,
kurang dari 4% yang memerhatikan lingkungan eksternal.
Salah satu perbincangan komprehensif mengenai
faktor
lingkungan, Mansour dan Watson mengkonseptualisasikan
lingkungan
eksternal sebagai skala
multidimensi yang mencerminkan tingkat persaingan, berbagai barang dan jasa, frekuensi usaha baru, jumlah
permintaan pelanggan dan jumlah regulasi eksternal.
Skala ini terbukti sebagai predictor kuat kinerja MIS. Variabel yang signifikan
lainnya juga berpengaruh terhadap kinerja MIS. Model yang sama diterapkan pada
39 organisasi
publik, namun tidak
berhasil. Mansour
dan Watson menyimpulkan
bahwa
organisasi publik berada dalam
lingkungan
yang jauh berbeda dari yang dihadapi oleh
organisasi
bisnis.
Selain mengabaikan
variabel lingkungan, masalah kedua pada model penelitian MIS adalah kegagalannya dalam menghubungkan berbagai tingkat
analisis
dalam organisasi. Berdasarkan fokus tersebut, terlihat bahwa sebagian
besar penelitian yang
ada sangat
bergantung pada kuesioner dan wawancara terstruktur dari beberapa aktor dalam
organisasi masing-masing. Data yang didapat kemudian dikumpulkan untuk menggolongkan MIS dan organisasi. Pada level
analisis individu, penelitian MIS mengikuti dua pola. Pola utama memfokuskan
pada pengaruh MIS terhadap proses pembuatan keputusan dan sangat bergantung
pada kelompok kecil. Konteks keputusan cenderung mencerminkan organisasi
bisnis, seperti halnya perusahaan manufaktur. Variabel proses kognitif sering dipertimbangkan bersama dengan
variabel MIS untuk menjelaskan hasil keputusan. Huberlo berpendapat bahwa proses kognitif
penelitian mengalami terlalu banyak skema pengukuran yang berbeda
dan masalah validitas menjadi fokus berguna untuk teori MIS.
penelitian mengalami terlalu banyak skema pengukuran yang berbeda
dan masalah validitas menjadi fokus berguna untuk teori MIS.
Aliran
penelitian lain pada level individu sangat bergantung pada data survey,
meskipun percobaan juga dilakukan. Prinsip utamanya adalah pelibatan user dalam perancangan dan pengoperasian
MIS untuk meningkatkan kinerja MIS. Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh Ives dan
Olson menemukan banyak hal tentang korelasi user dengan kinerja MIS. Dari 22 studi yang ditinjau, 8 diantaranya memiliki hubungan yang positif antara keterlibatan pengguna dengan berbagai pengukuran kinerja MIS, 7 memiliki
hasil yang beragam, dan 7 lainnya ditemukan hasilnya negatif atau tidak signifikan. Terkait hasil tersebut, Ives dan Olson
berpendapat bahwa
beberapa studi
yang yang
ada menciptakan kekakuan yang cukup dalam pengukuran atau perancangan untuk menjamin hasil yang terpercaya. Sekali lagi,
pada level ini, terbukti bahwa hanya terdapat sedikit
perhatian
terhadap lingkungan
eksternal penelitian MIS.
Kerangka untuk Penelitian Public Management Information
System
Kerangka konseptual dalam MIS tidak memperhatikan faktor
eksternal yang turut mempengaruhi suatu organisasi. Selain itu, kerangka
konseptual tersebut
tidak dirancang
untuk memfasilitasi penelitian tentang
implikasi MIS pada
sektor publik. Kemudian, muncul kerangka
konseptual baru yang menjelaskan penerapan MIS pada organisasi publik. Gambar di bawah ini menyajikan
kerangka MIS
yang telah direvisi, dengan penekanan yang
lebih besar untuk
konteks sosial
dan lingkungan.
Gambar
2. Kerangka Konseptual Penelitian PMIS
Level of analysis Independent
Variabels Dependent Variabels
|
External
Environment
|
Context
|
|
Organizational
Context
MIS
Variables
i)Technology
ii)Management
iii)Structure
|
MIS
structural
|
|
Individual
Attributes
|
Decision
Making
|
Society Meta
|
||||
Sumber: Public
Administration Review, Vol. 46, Public Management Information Systems(Nov.,
1986), pp. 475-487 oleh Barry Bozeman; Stuart Bretschneider.
Organizational Context
Terdiri atas seperangkat variabel
yang biasanya
diidentifikasi dengan
konteks ini, seperti ukuran,
struktur jangka waktu, sumber daya organisasi,
dan kematangan
organisasi. Individual
context mencerminkan karakteristik individu dalam suatu organisasi, seperti
gaya kognitif, tingkat kepuasan terhadap MIS, dan berbagai atribut demografis
dan personal. Studi pada berbagai tingkat analisis secara alami akan menghasilkan pengukuran efektivitas
yang berbeda. Ilustrasi pengukuran untuk konteks
organisasi
mencakup penggunaan
MIS, keragaman dalam aplikasi, dan
tingkat
penggunaan MIS dalam organisasi. Pada konteks individu, variabel efektivitas terdiri atas biaya,
ketepatan waktu,
dan
profitabilitas.
Kerangka PMIS berbeda dengan MIS kerangka
konvensional karena
menekankan faktor lingkungan dibandingkan karakteristik
internal organisasi. Kerangka PMI berusaha untuk keluar dari pengamatan ini, membedakan antara lingkungan
"proksimat" dan
"distal" dan menyarankan mekanisme yang memperhatikan perbedaan
lingkungan yang mempengaruhi
perilaku
manajerial. Hal ini, tentu aja, tidak mengherankan bahwa organisasi, baik organisasi publik maupun swasta,
dipengaruhi oleh faktor lingkungan eksternal mereka. Hal ini dilakukan dengan
menerapkan teori manajemen
publik-swasta
secara berbeda pada kasus manajemen informasi tertentu.
Empat Model
dalam Sektor Publik (Publicness)
Empat model publicness disajikan untuk mengembangkan preskriptif teori PMIS. Terlepas dari kenyataan bahwa banyak
sekali proposisi tentang perbedaan antara organisasi publik dan swasta
telah ditawarkan,
namun tetap mungkin untuk menangkap sebagian besar
proposisi di hanya empat
"model publicness", yaitu (1)
Economic Authority; (2) Political Authority; (3) Personnel and
Personnel Systems; dan (4) Work Context. Dua model pertama dapat dilihat
sebagai aspek lingkungan “distal” suatu organisasi yang meliputi faktor-faktor yang luas dan penyebab utama. Yang kedua merupakan dua model "proksimat" dalam arti
bahwa faktor-faktor yang
kurang unsur,
lebih khusus untuk jenis
organisasi
tertentu, dan sangat dipengaruhi oleh faktor dalam lingkungan distal. Sebagian besar komponen dalam model proksimat
adalah penyebab sekunder.
1. Economic
Authority Model (Model
Kewenangan
Ekonomi)
Menurut model kewenangan ekonomi, perbedaan organisasi publik dan swasta ialah pada karakter
ekonomi dari masing-masing sektor dan barang dan jasa yang mereka berikan. Argumen utama pendekatan kegagalan pasar adalah bahwa
pasar merupakan
perangkat yang
paling efisien untuk mengalokasi barang dan jasa dan pemerintah yang seharusnya hanya campur tangan pada kasus kegagalan pasar. Kegagalan pasar merupakan kegagalan pasar dalam
menyediakan barang dan jasa publik yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Hal ini dapat
terjadi ketika informasi yang tersedia bagi para pelaku ekonomi tidak mencukupi atau terdistorsi.
Permintaan terhadap informasi barang dan jasa mungkin muncul, tetapi karena
adanya kesulitan dalam mengelompokkan dengan pengecualian, maka tidak ada pasar
yang efektif yang hadir untuk pembelian informasi secara efisien.
Terkadang gangguan dalam persaingan
dapat memicu kegagalan pasar, terutama dalam pasar monopoli. Pada beberapa
instansi, pasar dapat memfasilitasi pertukaran, tetapi biaya transaksi biasanya
akan mahal. Kegagalan pasar dihubungkan dengan barang publik dan eksternalitas
yang dihasilkan berkat adanya karakter publik pada suatu barang dan jasa.
Menurut Herber, karakteristik utama dari barang publik adalah dapat dikonsumsi
secara bersama sehingga tidak bisa dihitung secara pasti harga dari manfaat
yang diperoleh. Pasar, tidak efisien dalam mengalokasikan barang dan jasa
publik karena adanya eksternalitas yang terkandung dalam barang publik yang
tidak dapat ditanggung oleh pasar.
Selain itu,
para ekonom juga telah mengembangkan argumen yang berkaitan
dengan hak milik dan kepemilikan. Berdasarkan teori hak
milik (property
rights theorists), perbedaan paling penting
antara organisasi swasta publik terletak pada
ketidakmampuan untuk pengalihan kepemilikan dalam organisasi publik
dari satu orang ke orang lain. Tidak adanya
saham perorangan pada saham negara, individu tidak dapat
mengubah portofolio investasi dalam program-program pemerintah dan tidak
dapat bertukar hak milik. Kemampuan bertukar
kepemilikan berkaitan dengan efisiensi ekonomi. Para ekonom memandang
kepemilikan sebagai input produktif yang berfungsi
untuk menanggung risiko dan mengatur kegiatan manajerial. Dalam
organisasi publik, risiko modal disebarkan ke derajat tertentu sehingga
hampir tidak ada. Selanjutnya, kurangnya distribusi kemampuan
manajerial antara organisasi publik di mana tidak adanya hubungan kuat
antara input kerja dan reward and punishment
diduga menyebabkan produktivitas menjadi lebih rendah. Selain itu, inefisiensi
juga
berkaitan dengan peraturan
birokrasi
dan
mekanisme pengawasan yang tidak memadai, tetapi
membutuhkan
banyak biaya. Di perusahaan swasta, pengusaha dan manajer melakukan wealthsharing sebagai
kombinasi input ekonomi untuk memaksimalkan produktivitas.
2.
The Political Authority
Model (Model Kewenangan
Politik)
Pada perusahaan, otoritas terletak pada insentif ekonomi,
sementara pada organisasi publik otoritas terletak pada kekuasaan politik. Otoritas
politik tercermin dalam nilai-nilai fundamental dan komitmen psikologis dari
individu untuk legitimasi pemerintah yang secara formal diwujudkan
dalam suatu struktur hukum dan konstitusional. Prinsip konstitusional mengenai
pemisahan kekuasaan antara ketiga cabang pemerintahan sangat signifikan di
Amerika Serikat. Di negara tersebut, organisasi publik yang diarahkan oleh
atasan eksekutif, tergantung pada anggota DPRD untuk sumber daya mereka, dan
tunduk pada aturan, interpretasi, dan perintah dari cabang yudisial. Ketika seseorang juga
mempertimbangkan kontrol eksternal dalam pengadaan dan pengelolaan fasilitas,
prosedur personalia, serta reorganisasi fragmentasi otoritas yang dikenakan
oleh struktur federalisme, menjadi jelas bahwa politik kewenangan organisasi
publik dilaksanakan dalam kerangka struktural yang jauh berbeda dari otoritas
ekonomi dari sebuah perusahaan swasta.
Sama pentingnya dengan fragmentasi otoritas politik yang saling
ketergantungan. Perusahaan swasta, akhirnya, didorong oleh tujuan-tujuan internal
yang berhubungan dengan keuntungan dan pertumbuhan stabil. Tujuan dari organisasi
publik, setidaknya sampai batas tertentu, mengatur secara eksternal dan menghindari
self-interest dalam organisasi. Kompetisi di antara perusahaan-perusahaan
swasta merupakan kebajikan sosial, sedangkan persaingan antar lembaga publik
tidak demikian. Ketika lembaga publik bekerja di crosspurposes, maka akan dipandang tidak efektif.
Dilihat dari segi struktur hukum dan konstitusional yang memisahkan publik
dari organisasi swasta ialah organisasi publik diberi mandat melalui proses
pemilihan. Tidak ada kewenangan sektor private untuk mengontrol politik dari
organisasi publik. Akhirnya perbedaan yang paling tajam antara sektor publik dan
swasta ialah fokus pada hak-hak individu. Bill of Rights adalah penjamin hukum yang paling jelas dari hak-hak individu,
namun undang-undang dan prosedur individual personil juga menekankan hak-hak
individu. Hak-hak ini diwujudkan dalam jaminan melalui proses dan prosedur yang
dibentuk oleh sistem pelayanan federal sipil. Perilaku dalam organisasi publik
dan swasta berbeda dalam banyak kasus karena warga negara berkomitmen untuk
legitimasi pemerintah memiliki harapan yang berbeda untuk organisasi publik
daripada organisasi-organisasi swasta. organisasi publik dan
pegawai pemerintah diharapkan bekerja untuk kepentingan umum.
3. Work
Context Model (Model Konteks Kerja)
Work Context Model kurang berfokus pada
faktor-faktor penentu struktural broadscale perbedaan publik-swasta (lingkungan
distal) dibandingkan perhatiannya pada lingkungan terdekat (lingkungan proximate). Dua model sebelumnya
berlabuh dalam penelitian empiris maupun teoritis tradisi lama, work
context model
ini terutama berasal dari pengamatan yang dilaporkan para pejabat tingkat
tinggi di sektor publik dan bisnis, terutama "kalangan spanners” yang
telah memiliki pengalaman di kedua organisasi publik dan swasta.
Work context model berpusat pada perbedaan posisi manajerial
tingkat tinggi. Salah satu ciri khas umum mencatat konteks kerja eksekutif
sektor publik berkaitan dengan kerangka waktu dan kecepatan kerja. Eksekutif
bisnis juga bekerja dengan kecepatan yang panik, tetapi "akselerator
kecepatan" lebih sering dialami oleh para manajer publik. Pertama, manajer umum
lebih sering tunduk pada pengawasan oleh media massa dan dari beragam kelompok
kepentingan yang memiliki saham dalam hasil keputusan kebijakan. Ketika tindakan yang diawasi
oleh berbagai pihak, akan lebih sedikit kesempatan untuk melakukan refleksi, mengukur
tindakan atau malakukan penyesuaian kembali dari suatu kebijakan. Mungkin perbedaan yang
paling penting dalam kerangka waktu manajer sektor publik dan swasta terkait
dengan siklus politik pemerintahan. Pada siklus politik
pemerintahan proses alokasi umum beroperasi secara tahunan, kongres dibentuk
setiap dua tahun, dan presiden dapat berubah setiap empat tahun. Ada tekanan
konstan untuk mencapai hasil-hasil cepat yang dapat membantu agent menerima bagian yang lebih besar
di pemilihan berikutnya.
Atribut lain dari
konteks pekerjaan sektor publik adalah bahwa krisis didorong. Terkadang
persepsi mengenai krisis adalah sama pentingnya dengan realitas. Memang,
pembuat kebijakan sering kali terfokus pada krisis atau bahkan membuat krisis
tersebut sehingga menyebabkan pekerjaan mereka tampak lebih mendesak. Krisis nyata maupun
krisis buatan ditujukan sebagai katalis pada kebijakan yang kurang
terkoordinasi agar masuk ke dalam agenda kebijakan publik. Pada
akhirnya,
bekerja di sektor publik akan cenderung lebih tunduk pada tekanan publik dan
dipengaruhi lebih beragam mekanisme akuntabilitas. Perhatian media massa
merupakan faktor signifikan dalam pengawasan publik, tetapi faktor lain seperti
hukum "sunshine", persyaratan pengungkapan publik, dan built-in check
and balances merupakan hal yang cukup penting.
4. Personnel and Personnel
Systems Model (Model Kepribadian
Pegawai dan Sistem Kepegawaian)
Organisasi publik
berbeda dari dengan organisasi swasta juga dalam hal pegawai. Pegawai publik
secara keseluruhan memiliki perbedaan sikap tentang pekerjaan mereka serta
perbedaan struktur insentif. Perbedaan tersebut dapat dihasilkan dari proses
seleksi, sosialisasi, maupun sistem kepegawaian (personnel systems). Sikap yang paling
menarik bagi para peneliti untuk membandingkan karyawan publik dan swasta ialah
sikap yang terkait dengan kepuasan kerja, komitmen organisasi dan motivasi. Studi terhadap manajer bisnis
dengan manajer publik menunjukkan bahwa manajer bisnis memiliki laporan sikap
yang lebih positif tentang organisasi mereka dan mengidentifikasi lebih kuat. Dalam studi komparasi
sikap kerja lainnya antara manajer publik dan swasta, Rainey menemukan bahwa
manajer publik dianggap memiliki hubungan yang lemah antara kinerja dengan
insentif yang didapat, seperti uang, promosi, dan jaminan keamanan kerja. Para
manajer publik juga memiliki skor yang lebih rendah dalam hal kepuasan dengan
rekan kerja dan dengan promosi serta merasa bahwa prosedur kepegawaian yang ada
kurang fleksibel. Dalam studi selanjutnya, Rainey menyimpulkan bahwa harapan reward yang lebih rendah terhadap kinerja
yang baik dalam ukuran besar bagi tingkat kepuasan kerja yang lebih rendah dan
identifikasi organisasi yang dilaporkan oleh manajer publik. Satu penjelasan
yang masuk akal mengenai ketidakpuasan (relative dissatisfaction)
manajer
publik ialah sistem kepegawaian publik yang menjadi sumber frustrasi para
pegawai. Seperti halnya pada pemerintahan federal Amerika Serikat, bahwa alasan
utama melakukan reformasi Undang-Undang Tahun 1978 tentang Pegawai Negeri adalah
untuk mengurangi kemungkinan pemerintah federal akan mengabaikan kinerja
karyawan dan penghargaan atas kinerja mereka. Namun inisiatif untuk membuat
kebijakan mengenai pegawai negeri serupa dengan yang ditemukan dalam dunia bisnis,
ternyata tidak terlalu berhasil. Hal ini secara tidak langsung bukti adanya
perbedaan yang melekat dalam manajemen publik dan swasta. Bukti perbedaan
publik dengan swasta yang lebih langsung ditunjukkan melalui survei terbaru atas
14.000 pegawai federal. Sebagian besar dari mereka setuju bahwa “supervisor di
sini merasa bahwa kemampuan mereka untuk mengelola dibatasi oleh berbagai peraturan
yang terkadang tidak perlu”. Buchanan berpendapat bahwa formalisme berlebihan
pada instansi pemerintah terutama
disebabkan mengurangi otoritas. Penafsiran didukung dengan penemuan Rainey
bahwa skor manajer publik lebih tinggi dalam hal formalisasi skala besar dibandingkan
sektor swasta. Pendapat lain menyatakan bahwa formalisme pada birokrasi publik dihasilkan
dari ambiguitas tujuan dan tidak adanya pengukuran produktivitas dan efektivitas
yang valid. Sistem kepegawaian pemerintah tidak seperti sistem kepegawaian pada sektor swasta sehingga menciptakan beberapa perbedaan dalam perilaku organisasi orang-orang di dalamnya. Tetapi mungkin "bahan baku" yang agak berbeda pada sektor publik menjadi salah satu penyebab adanya perbedaan antara kedua organisasi tersebut. Suatu studi mengenai sikap dan nilai para lulusan (graduate student) menemukan adanya perbedaan yang signifikan antara mereka yang berniat untuk memasuki karir bisnis dengan mereka yang berencana bekerja di pemerintahan. Para pelajar yang berorientasi pada sektor publik dinilai memiliki dominasi, status-seeking, dan fleksibilitas yang lebih tinggi, lebih tertarik menjadi agen perubahan, menunjukkan keahlian yang lebih dalam changerelated activities, dan kurang berorientasi pada kekayaan maupun
keuntungan pribadi. Dengan demikian, teori dan hasil penelitian dari berbagai studi yang menggunakan berbagai metode menemukan adanya perbedaan karakteristik antara organisasi publik dan swasta.
yang valid. Sistem kepegawaian pemerintah tidak seperti sistem kepegawaian pada sektor swasta sehingga menciptakan beberapa perbedaan dalam perilaku organisasi orang-orang di dalamnya. Tetapi mungkin "bahan baku" yang agak berbeda pada sektor publik menjadi salah satu penyebab adanya perbedaan antara kedua organisasi tersebut. Suatu studi mengenai sikap dan nilai para lulusan (graduate student) menemukan adanya perbedaan yang signifikan antara mereka yang berniat untuk memasuki karir bisnis dengan mereka yang berencana bekerja di pemerintahan. Para pelajar yang berorientasi pada sektor publik dinilai memiliki dominasi, status-seeking, dan fleksibilitas yang lebih tinggi, lebih tertarik menjadi agen perubahan, menunjukkan keahlian yang lebih dalam changerelated activities, dan kurang berorientasi pada kekayaan maupun
keuntungan pribadi. Dengan demikian, teori dan hasil penelitian dari berbagai studi yang menggunakan berbagai metode menemukan adanya perbedaan karakteristik antara organisasi publik dan swasta.
SIM Publik
Model
terpadu dari lingkungan organisasi publik menyediakan struktur pendukung untuk teori
PMIS ( Sistem Informasi Manajemen Publik) dan rekomendasinya. Model ini
digunakan untuk melacak dampak dari lingkungan distal dan lingkungan proximate
dari organisasi public terhadap kinerja
PMIS. Gambar 4 menyajikan tipologi dari ukuran kinerja PMIS yang mana
mencerminkan peran dari lingkungan distal dan lingkungan proximate dalam
pengkuran kinerja PMIS.
Gambar 4
Pengukuran
Kinerja
Operasioanal Manajerial Environmental
1 Biaya 1. Keuntungan Penyimpanan 1. Pemerataan kepada pelanggan
2. Efisiensi 2. Akuntabilitas 2.
Perlindungan Hak
3. Batasan Waktu 3. Visibilitas “Screw Up” indeks
Pada
tingkat operasional, kinerja sistem informasi manajemen (MIS) berhubungan erat
dengan karakteristik aktual dari perangkat keras (hardware), perangkat lunak
(software), dan data. Sebagai contoh, data yang dikumpulkan, disimpan, dan
dianalisis oleh sistem informasi
manajemen (MIS) dapat dievaluasi keakuratannya, ketepatan waktunya, redudansinya,
kredibilitasnya, dan sebagainya. Tindakan ini mencerminkan kinerja dari
komponen pengelolaan data dari manajemen informasi sistem (MIS). Terlepas dari
seberapa baik kinerja aspek-aspek lainnya dalam suatu organisasi, jika database
yang ada buruk, teknik yang mengkonversi data menjadi informasi akan bisa menghasilkan informasi yang salah
atau tidak tepat bagi organisasi yang bersangkutan.
Komponen
teknik lainnya adalah aplikasi dan sistem. Payroll, personalia, dan
pengembalian pajak, penghitungan keuntungan keamanan sosial, dan transfer dana
secara elektronik adalah contoh dari sistem transaksi berbasis aplikasi. Sistem
kinerja ini dapat diukur dalam hal volume pengolahan biaya per unit, menghitung
tenggat waktu bertemu, dan sebagainya. Tipe lainnya adalah sistem dan
pemodelan. Keduanya baik itu secara statistik dan diorientasikan dalam pengambilan keputusan
menjadi lebih dan lebih otomatis di semua tingkat pemerintahan. Teknik
pengukuran yang sesuai untuk sebuah model otomatis adalah bahwa model
tersebutlah yang mendasari dirinya sendiri. Sebagai contoh, apakah suatu model
memprediksi secara tepat atau tidak, model itu sedirilah yang menyediakan hasil
yang bermanfaat dalam waktu yang tepat.
Aspek
ketiga dari teknik kinerja manajemen informasi sistem (MIS) adalah evaluasi
dari sistem pengembangan atau pengadaan. Dalam hal pengembangan,
pengawasan dari tenggat waktu proyek dan
jadwal menyediakan satu ukuran dari proses pengembangan. Langkah lainnya adalah
seberapa baik produk akhir memenuhi spesifikasi atau tuntutan pengguna akhir. Seringkali,
lamanya waktu proses dapat menyebabkan perubahan harapan dan permintaan dari
pengguna akhir dan sedikitnya penerimaan dari sistem yang dikembangkan.
Penggunaan
akhir dipengaruhi oleh personal SIM tetapi tidak tegas dikendalikan oleh
mereka, pada umumnya kebanyakan dari kita menganggap pengukuran adalah dibawah
tanggung jawab manajemen. Beberapa pengukuran efektivitas SIM tradisional di
dalam organisasi antara lain seperti penggunaan dan profitabilitas termasuk ke
dalam kategori. Mengukur penggunaan akhir dari layanan SIM meliputi, tingkat,
intensitas, dan keanekaragaman dari penggunaan. Analisis ekonomi dari kinerja
SIM berfokus pada profitabilitas dari sebuah perusahaan swasta, mengukur
pengurangan biaya yang terkait dengan otomatisasi fungsi SIM, atau melakukan
analisis biaya manfaat penuh.
Beberap
pengukuran kinerja SIM pada bisnis yang relevan dengan organisasi public. Tapi
SIM pada organisasi public memerlukan beberapa ukuran kinerja yang unik dan
beberapa pergeseran dalam penekanan. Akuntabilitas, misalnya, penting dalam
kedua organisasi swasta dan publik, tapi akuntabilitas dibutuhkan jauh lebih
besar di organisasi publik karena sifat pada lingkungan terdekat. Manajer pada
organisasi public lebih cenderung bertanggung jawab kepada individu dan
kelompok di luar organisasi. Pengukuran akuntabilitas harus mencerminkan kemampuan
SIM pada oganisasi publik untuk menangani permasalahan khusus yang mana merupakan
data agregat dengan cara yang tidak terduga, dan menghasilkan laporan khusus
dan analisis. Bentuk analisis tidak
rutin ini akan memiliki frame waktu yang
sangat singkat, sehingga menambah
dimensi ketepatan waktu untuk pengukuran akuntabilitas.
Manajemen
pengukuruan kinerja SIM pada public yang lainnya adalah konsep dari menyimpan
manfaat. Organisasi swasta memantau biaya (input) dan kualitas produk atau jasa
(output) dan mengukur kinerja dalam hal biaya dikurangi peningkatan kualitas.
Tapi manajemen pada organisasi public meningkatkan pelayanan mereka, melakukan
dengan pengawasan yang lebih baik dari aliran manfaat (output) daripada melalui
pengendalian biaya. Sebagai contoh, program negara yang sebagian besar
mensejahterakan telah mengukur kinerja
SIM dalam hal meperhitungkan pengidentifikasian jumlah penerima yang tidak
memenuhi persyaratan seiring dengan penurunan layanan yang diberikan,
yaitu dalam jangka panjang akan
menyimpan manfaat. Kriteria ini sangat sering digunakan oleh pemerintah federal
dan negara saat menentukan computer audit AFDC dank program kupon makanan.
Sebagian
besar perbedaan antara SIM pada swasta dan SIM pada publik timbul dari
perbedaan distal lingkungan. Kecuali
untuk pasar, investasi, dan riset produk, evaluasi eksternal SIM pada swasta
sangat langka. Pada sektor publik tidak
adanya perspektif eksternal justru sering merusak. Konsumen akhir dari barang
dan jasa public adalah masyarakat luas yang (sebagaimana dikemukakan dalam
teori hak milik) biasanya memiliki kemampuan terbatas untuk campurtangan
mempengaruhi “produk” dan input. Kepuasan dari pejabat public (pengganti untuk
kepusan warga Negara) dengan set akhir barang dan jasa merupakan salah satu
kinerja SIM pada organisasi public. Di sisi lain, ada sikap masyarakat terhadap
perlindungan privasi. Tindakan tersebut merupakan indicator penting
keberhasilan teknis dari SIM pada public karena sering kali ada kasus bahwa masyarakat dengan sukarela
atau diminta memberikan data (misalnya, pengembalian pajak, data sensus) untuk
dimasukkan ke dalam SIM pada publik.
Satu
perhatian tambahan dalam mengevaluasi SIM public pada tingkat lingkungan adalah
seberapa besar SIM menanggapi permintaan eksternal untuk data. Organisasi
swasta memberikan informasi kepada pemerintah dan regulator, terkadang
perdagangan di pasar sekunder membutuhkan data mereka (misalnya, mailing list),
tapi organisasi public harus menanggapi badan pemerintah atasan, warga Negara,
dan rekan lembaga. Selama siklus anggaran lembaga eksekutif dan legislative
memerlukan data untuk mengevaluasi lembaga public. Baru-baru ini peran berbagai
data dari luar organisasi menjadi penting. Sebagai contoh, penggunaan computer
yang cocok untuk melaksanakan program audit menggunakan catatan individu dari
berbagai lembaga public (misalnya IRS dan
Selective Service). Derajat itu menunjukkan sejauh mana suatu organisasi
merespon permintaan data eksternal secara tepat waktu dan data yang akurat
memiliki efek positif atau efek negative pada SIM organisasi.
Pedoman Sistem
Informasi Manajemen Publik
Sejauh ini kita telah mensugestikan
bahwa SIM public berbeda dengan sector privat, SIM membutuhkan teori yang
terpisah dan berbeda antara praktek dan kinerja. Pada bagian ini beberapa alternative SIM
disajikan dan dikelompokkan sesuai dengan model dan asal dari masing-masing
model. Setiap pedoman dapat dikategorikan sebagai pertanyaan penelitian.
Wewenang Ekonomi dan
SIM Publik
Pedoman dikelompokkan di bawah kategori ekonomi yang
terutama berkaitan dengan konsekuensi kurangnya otoritas ekonomi. Pertanyaan
kemudian adalah “Adanya pemberian batasan kewenangan ekonomi, apa implikasi
untuk kinerja SIM public?”
Pedoman
No.1 : Efisiensi hanyalah salah satu yang terpenting dari criteria untuk
mengevaluasi efektivitas dari SIM public. Dalam organisasi swasta hal itu
bermakna mengevaluasi kinerja SIM atas dasar efisiensi ekonomi yang berkenaan
dengan proses produksi dan profitabilitas sebagai organisasi. Meskiipun
mengevaluasi organisasi public berdasarkan ukuran efisiensi produk sering kali
lebih sulit. Selain itu, evaluasi SIM
public secara eksklusif menurut efisiensi ekonomi biasanya tidak tepat.
Seringkali pembenaran untuk
mengalokasikan program di sector public yaitu manfaatnya yang diinginkan tapi
seringkali tidak bisa, untuk satu alasan atau lainnya (misalnya, eksternalitas,
innapprobiality), dipertahankan dalan lingkungan pasar. Lebih sering daripada
tidak, tidak memperhatikan konstituen politik dann norma ekuitas dalam
pembentukan SIM public dapat menyebabkan
permasalahan serius. Di Massachusetts, seorang fanatic mencoba untuk
mengorek cheats kesejahteraan oleh computer pencocokan informasi di AFDC dengan
catatan account rekening bank swasta, menyebabkan pembatalan dini kesejahteraan
manfaat bagi klien yang memenuhi syarat. Hasil dari kegagalan untuk menjamin
proses rekening berupa tuntutan persemakmuran.
Pengenalan pemodelan berbasis
computer untuk mengalokasikan unit patrol polisi didasarkan pada konsep
efisiensi ekonomi. Di sini kegagalan untuk memperhitungkan peran rekening yang
dimainkan di otoritas kebijaksanaan menguntungkan pejabat senior polisi,
akhirnya mengakibatkan matinya sistem seperti itu. Di tingkat pusat, ancaman
terhadap privasi pribadi mematikan sistem administrasi pajak yang diusulakn
yang akan memberinya 48.000 IRS akes karyawan ke pajak dari semua individu dan
korporasi pembayar pajak. Lebih dari itu, kinerja SIM public benar-benar
dipisahkan dengan misi non pasar dari
sebuah badan (sebuah kontingensi tidak mungkin), evaluasi kinerja yang
didasarkan atas efisiensi ekonomi adalah tidak pantas.
Pedoman No. 2 : Hindari penggunaan
SIM public sebagai hadiah pribadi atau pembayaran sampingan. Teori hak property
berpendapat bahwa keputusan sector public dan kegiatan manajerial lebih mungkin
ke pusat dalam sisi pembayaran karena tidak seperti sector swasta, hal itu
mungkin akan kurang menghubungkan masukan manajjerila terhadap kinerja. Dari
sisi pembayaran sering bberpusat pada perluasan garis personal, kenaikan
anggaran dan fasilitas. Dari sector public, teknologi computer dan pengawasan
SIM serta akses terkadang dapat melayani pembayaran. Salah satu kesulitan utama
dengan penggunaan SIM public sebagai
pembayaran adalah potensi penyalahgunaan ketika dieksploitasi untuk
keuntungan pribadi (misalnya, penimbunan informasi, invasi privasi klien atau
rekan kerja). Berbagai jenis informasi bocor ke media berita yang terkena
dampak spesifik individu atau mungkin sebagian kebijakan akan menggejala dan tidak beralasan untuk
SIM.
Kesulitan kedua yang timbul dari
penggunaan computer sebagai pihak pembayaran adalah potensi untuk kecepatan
proliferasi dari peralatan yang tidak kompatibel dan perangkat lunak yang
kurang terkoordinasi. GAO terus mengkritik lembaga ad hoc untuk keputusan
berkenaan dengan pembelian dan implementasi sistem computer. Studi baru tentang
perbendaharaan, pradilan federal, dan Korp Tentara mengidentifikasi kurangnya
koordinasi dalam pengelolan computer.
Wewenang Politik dan
SIM Publik
Kewenangan
politik menyiratkan saling ketergantungan hukun dan kendala hokum, kepekaan
terhadap siklus politik. Masing-masing factor harus diperhitungkan dalam desain
dan pelaksanaan SIM public.
Pedoman No. 3: Perencanaan SIM public harus
incremental atau kontijensi daripda holistic atau rasional. Umumnya berbicara
perencanaan untuk SIM harus melihat ke depan dan komprehensif. Dari hardware
dan software harus mempertimbangkan kebutuhan besok dan kemungkinan teknologi. Pembelian harus dikoordinasikan dan
pendekatan holistic untuk perencanaan SIM biasanya yang paling sesuai. Di sector public, bagaimanapun pengawasan
eksternal dan kepekaan terhadap perubahan politik yang berbeda tetap membutuhka
pendekatan untuk perencanaan SIM public.
Sebagai contoh UU Brooks di pemerintah federal membagi tanggung jawab untuk pembuatan kebijakan (OMB), menetapkan standar (NBS), dan pengadaan (GSA) untuk pengolahan data otomatis. Struktur ini menciptakan kendala yang signifikan yang mencegah perencanaan komprehensif yang jangka panjang. Salah satu gejalanya adalah rata-rata kontrak penghargaan komputer untuk enam bulan terakhir 19880 berlangsung antara 26 dan 39 bulan untuk diimplementasikan.
Sebagai contoh UU Brooks di pemerintah federal membagi tanggung jawab untuk pembuatan kebijakan (OMB), menetapkan standar (NBS), dan pengadaan (GSA) untuk pengolahan data otomatis. Struktur ini menciptakan kendala yang signifikan yang mencegah perencanaan komprehensif yang jangka panjang. Salah satu gejalanya adalah rata-rata kontrak penghargaan komputer untuk enam bulan terakhir 19880 berlangsung antara 26 dan 39 bulan untuk diimplementasikan.
Kendala lain yang merongrong
perencanaan yang efektif adalah proses anggaran. Sekretaris asisten
administrasi di Departemen Keuangan menyatakan sebuah tanggapan dalam studi
kritis GAO, “ Departemen telah menemukan nilai manfaat rencana jangka panjang
yang terbatas karena ketidakpastian yang melekat pada pemerintah pada proses
anggaran.
Pedoman No. 4 : Perencanaan SIM
public dan perancangan sistem harus mengantisipasi sebanyak mungkiin kebutuhan
ekstraorganisasi eksternal dan hubungan vertical. Sementara pada beberapa
kesempatan organisasi sector swasta menggunakan SIM sebagai link ke lingkungan
eksternal, menggunakan sebagian besar internal organisasi. Di sector public,
SIM public tidak hanya digunakan untuk memantau lingkungan tetapi sebagai actor
eksternal yang berarti untuk berinteraksi dan bahan memonitor focus
organisasi.Akuntabilitas yang meningkat di sector public sering mengamanatkan
bahwa SIM public menyediakan akses langsung bagi actor resmi di luar
organisasi. Dengan tidak adanya akses eksternal, SIM public bisa menjadi
fiefdom kecil dari pengetahuan yang tersedia untuk orang dalam dan digunakan
untuk dinegosiasikan sebagai instrument dengan eksekutif atasan (misalnya,
pejabat cabinet), pengawas misalnya, GAO, legislative subkomite) atau pihak
yang bertanggung jawab lainnya.
Tidak hanya penting untuk menghubungkan
SIM public untuk meningkatkan akuntabilitas tetapi juga untuk menghindari
duplikasi, tumpang tindih, dan potensi untuk bekerja di tujuan silang terhadap
rekan lembaga. Saling ketergantungan organisasi public menenukan hubungan
horizontal dalam penataan SIM public. Dalam beberapa kasus (misalnya, sistem
peradilan pidana) yang SIM public adalah sumber daya untuk berbagai actor dalam
kebijakan domain, meskipun desain sistem dan yang kepemilikan kendaraan
bermotor, sementara pada tingkat federal FBI memberikan informasi langsung
kepada bantuan dalam upaya penegakan hukun setempat. Ada beberapa sector swasta
parallel untuk jenis organisasi saling ketergantungan.
Beberapa contoh tambahan
menggambarkan hal ini. Pada tingkat studi pusat baru-baru ini meneliti 484 GAO
keuntungan dan kerugian dari pengalihan IRS dan SSA ke instansi pemerintah
lainnya untuk digunakan dalam proyek komputer yang cocok untuk memverifikasi
kelayakan untuk hak program. Salah satu
kesimpulan utama penelitian ini adalah untuk merekomendasikan bahwa data
penghasilan wirausaha yang dilaporkan wajib pajak digunakan untuk
memverfikasi penghasilan dalam hak
program lebih dari sekedar AFDC dank upon makanan. Hal ini tidak lama setelah
kongres yang disahkan menyediakan penggunaan dokumen serupa pelaporan
pendapatan yang belum diakui kelayakannya.
Konteks
Pekerjaan dan SIM Publik
Efek dari konteks kerja dalam SIM public secara
khusus berkaitan dengan struktur dan rutinitas manajemen public.
Pedoman No.5
: Kepala dari SIM public tidak harus berfungsi di bagian atas struktur
eksekutif organisasi public. SIM sukses di sector swasta terkait erat dukungan
dan perhatian dari eksekutif tingkat atas. Sebuah garis pedoman yang akrab
disajikan dalam literature SIM menunjukkan bahwa kepala SIM harus melaporkan
kepada tingkat tertinggi organisasi. Di sector public, namun para pejabat
tertinggi lebih mungkin ditunjuk secara politis dan cenderung kurang terlibat
dalam manajemen operasi. Politik ekskutif sangat memperlihatkan keprihatinan
dengan siklus politik dan hasil yang cepat dapat merusak tujuan SIM public
jangka panjang.
Sejak
tahun 1980 dan UU Pengurangan Kertas Kerja, pemerintah federal telah mencoba
membangun posisi tujuan umum manajemen informasi, dan sumber informasi (IRM).
Alasan posisi seperti ini adalah bahwa perencanaan terpusat dan kontrol
informasi, sumber daya yang berguna untuk pengambilan keputusan harus
beroperasi pada tingkat tertinggi karir layanan masyarakat. Dorongan lebih
lanjut untuk ide dihasilkan oleh Laporan Komisi Grace yang mendukung gagasan
IRM tersebut. Namun enam tahun silam tidankan tersebut kecill dan kebanyakan
kasus mereka adalah mantan manajer EDP yang memiliki tanggung jawab lebih
tetapi kekurangan sumber daya.
Di
tingkat local, Kreamer dan rekan menemukan bahwa perkembangan komputasi hanya
kadang-kadang terlibat dengan pejabat public tingkat tinggi seperti manajer
kota, walikota, atau anggota dewan kota. Dorongan untuk komputasi biasanya
dating dari kepala departemen keuangan
dan kemudian selam periode kelangkaan sumber daya, “ kebijakan ini dibuat oleh
suatu proses pluralistic didominasi oleh departemen pengguna dan unit
komputasi”. Kreamer dan rekan-rekannya mengakui bahwa manajemen puncak
melakukan campur tangan dalam kebijakan komputer, tapi jarang dan hanya untuk
mendefinisikan aturan-aturan dasar untuk alokasi sumber daya.
Pedoman No. 66 : kebijakan harus memberikan
penekanan yang lebih besar untuk penyewaan berbagai sumber daya SIM public. Di
sector swasta, modal yang diinvestasikan dalam SIM dapat disusutkan untuk
tujuan pajak dan banyak kasus peralatan dapat dijual ketika kebutuhan
perusahaan diperluas dan pada saat peralatan ini untuk beberapa lainnya sudah
ketinggalan jaman. Organisasi sector public tidak dapat mengambil keuntungan
dari tunjangan penyusutan, di sebagian besar contoh, berharap untuk menerima
nilai pasar yang wajar untuk peralatan dalam jumalh besar yang sudah
ketinggalan jaman. Jadi sewa peralatan dan berbagi sering merupakan alternative
yang lebih menarik dalam pengembangan SIM public. Hal ini khususnya terjadi
saat proses perencanaan yang lebih dan kurang kontingen holistic karena
perubahan politik dan kendala sumber daya.
Pada
proses pengadaan di pemerintah federal mencerminkan saling ketergantungan
mengalir dari wewenang politik (lihat Pedoman No.3). Banyak keberhasilan baik
dalam arti manajerial dan politik dapat ditelusuri penggunaan pilihan leaseing
dalam pemerintah, seperti di Brazoria, Texas, dimana petugas bisa bebas dari
saling ketergantungan produksi dengan sistem komputasi terpusat dengan
peralatan sewa dan perangkat lunak untuk mengelola statistik vital bagi couty.
Pedoman No. 7 : SIM public
memerlukan waktu pengujian dan pengembangan yang berlarut-larut. Biasanya,
kesalahan masyarakat pada sector alat tenun sangat besar. Sebuah kesejahteraan
sistem pauout tang terkomputerisasi dapat mempengaruhi ratusan kesejahteraan
masyarakat yang tinggal di garis subsitensi. Mengingat dampak SIM public sangat
tinggi untuk menekan akuntabilitas dan visibilitas program public, pengembang
SIM public menyarankan untuk berhati-hati sebelum menerapkan. Di sector swasta,
lebih sering untuk bertidak drastis. Hal
ini kurang berlalu pada lembaga public.
Di Georgia, pengembang teknologi berbasis
sistem komputer yang menghasilkan daftar narapidana penjara yang memenuhi
persyaratan untuk pembebasan bersyarat tidak cukup uji. Sebagai
hasil, nama salah satu narapidana yang dihukum karena beberapa pembunuhan
muncul dalam daftar dan hanya menjalani tujuh tahun. Hal ini tentu saja
langsung menyebabkan kemarahan pada hakim, jaksa penuntut, dan masyarakat pada
umumnya. Kesalahan tersebut menyebabkan heboh sehingga Dewan Pembebasan
memutuskan untuk tidak menerbitkan dafatr lagi. Contoh lain dari jenis
rancangan dan implementasi kesulitan berasal di seluruh Negara yang menggunakan
kupon makanan, bantuan untuk anak-anak, dan bantuan kesehatan ke lebih dari
320.000 penduduk Georgia. Dikembangkan oleh USDA tersebut, Georgia menyampaikan informasi ke
public dengan sistem komputer yang gagal untuk menangani sejumlah kasus. Hal
ini menyebabkan duplikasi beberapa manfaat dan penundaan lebih dari sebulan
untuk kalin yang sah untuk diproses. Masalahnya bertahan selama berbulan-bulan,
dan setelah waktu bantuan kesehatan dikontrakan untuk mengurangi beban di
Paris. Hal ini juga menyebabkan permsalahan lebih lanjut, dengan sebanyak
10.000 penduduk yang dikategorikan memenuhi syarat peneriima bantuan menjadi
tidak memenuhi persyaratan dan utamanya karena gangguan komunikasi antara rumah
sakit dan Negara, serta adanya upaya mencegah ijin tentang kelayakan status.
Pedoman No. 8 : SIM public pada
umumnya tidak bermanfaat dalam meningkatkan pengawasan manajerial. Banyak
manajer di sector swasta yang pada awalnya tertarik pada SIM sebagai sarana kegiatan
dan menambah control. Di sector public, SIM cenderung
kurang menjadi alat yang efektif untuk manajerial pengawasan. Di tempat pertama
pengawasan, manajerial sering dijual untuk melawan akuntabilitas. Jadi setiap
upaya untuk meningkatkan manajerial pengawasan
menggunakan SIM public akan menjumpai beberapa perlawanan, mungkin
mengurangi nilai SIM public sebagai alat manajerial. Sebuah survey dari
manajemen puncak di 42 pemerintah daerah menemukan “Top manajer cenderung
merasa ahwa komputer memiliki sedikit efek pada kapasitas mereka untuk
mengendalikan unit yang ada di bawah tanggung jawabnya, untuk mengidentifikasi
masalah, pelanggaran, dan iniefisiensi dalam unit, atau untuk memantau kinerja
individu dalam unit-unit yang ada.
Sistem
Personel dan SIM Publik
Beberapa
perbedaan yang paling menonjol antara public dan swasta ada di dalam sistem
manajemen personalia. Banyaknya perbedaan memiliki implikasi penting untuk
desain SIM public.
Pedoman No. 9 : SIM public tidak
boleh dirasionalisasikan pada dasar tabungan tenaga kerja. Meskipun SIM public
terkadang telah dijual atas dasar dugaan dan tabungan tenaga kerja penggantian
personel, ada sedikit alasan untuk percaya bahwa SIM public memiliki manfaat
pengurangan tenaga kerja yang siginifikan. Banyak pekerjaan umum dilindungi
oleh pelayanan sipil dan dilindungi oleh penjamin lain yang bahkan lebih kuat,
politik pound pro quo. Selain itu, pengurangan tenaga kerja di sector public
bukan merupakan manfaat wajar tanpa pengecualian. Pada umumnya, sector public akan
lebih berpikir panjang, melihat dampak pengangguran. Berbeda dengan sector
swasta, perpindahan personel tidak mudah dipertahankan dengan alasan
produktivitas dalam tampilan sifat barang public serta pelayanan dan peran
pekerjaan umum sebagai jarring pengaman.
Pedoman No. 10 : SIM public pada
pasar tenaga kerja kurang perencanaan
yang elastic dan SIM public harus mengadopsi nilai non pasar. Ada mungkin
sedikit koresponden antara keuntungan dan produktivitas dikenai SIM public dan
dana pada psisi yang tersedia untuk memperkerjakan staf SIM public. Sebagai
Levine telah menyarankan personel SIM adalah menduduki tawaran pertama. Dalam
meracang SIM biasanya dianjurkan untuk bertanya di depan dan akhir proses
perencanaan yang akan mengoperasikan dan memelihara sistem.
Dalam paper ini penulis berusaha
mengidentifikasi perbedaan antara SIM public dan SIM swasta. Dan sebagai
penutup, penulis berkesimpulan bahwa ada beberapa perbedaan dan persamaan
antara SIM public dan SIM swasta. Tapi seperti Komputer, SIM akan semakin
dipengaruhi oleh lingkungan. Pengadaan SIM yang dikembangkan di dalam swasta
bukan berbarti tidak bisa dikembangkan di publik, tapi factor lingkungan harus
selalu diperhatikan agar tidak menyimpang.


EmoticonEmoticon